NASAB BELIAU

Habib Salim Bin Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Ali bin Husin bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Alwi Asy-Syathiry bin Al-Faqih Ali bin Al-Qodhi Ahmad bin Muhammad Asaadulloh bin Hasan At-Turobi bin Ali bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Putra dari Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimmah az-zahro’ Binti Rosululloh Solalloh ‘alaihi wa salam.

Garis nasab beliau adalah pohon nasab yang penuh petunjuk dan hidayah. Sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam perkataan Al-Habib Abdulloh bin Alwi Alhaddad :

“Mereka mengikuti jejak Rasululloh dan para sahabatnya

serta para tabi’in maka berjalanlah kamu dan ikutilah mereka

Mereka berjalan menuju suatu jalan kemuliaan

generasi demi generasi dengan begitu kokohnya”

Adapun nasab ibu beliau yang sholihah afifah adalah Nur binti Umar bin Abdullah bin Husin bin Syihabuddin.

Habib Salim Assyatiri lahir di kota Tarim sekitar 82 Tahun yang lalu. Tepatnya di tahun 1357 H.

Ketika lahir ayahnya memberi dia nama “Umar”, tapi ketika ia sakit-sakitan. Sang ayah berziarah ke Makam Al Imam Abdullah Bin Alawy AlHaddad. Di sana beliau tertidur dan bermimpi bertemu Imam Alhaddad yang menyuruhnya untuk mengubah namanya menjadi “Salim” agar selamat dari segala musibah. Itu terbukti karena kelak Habib Salim memang seringkali selamat dari percobaan pembunuhan dan penculikan yang menimpanya.

Beliau dididik langsung oleh sang ayah Habib Abdullah Bin Umar Assyathiri, maha guru dari para ulama Yaman dan pengasuh utama Ribath Tarim di waktu itu. Selain berguru kepada sang ayah, Habib Salim juga berguru kepada Ulama-ulama seperti :

  1. Habib Alwi Bin Shihab,
  2. Habib Muhammad Bin Hafidz(ayah Habib Umar)
  3. Habib Ahmad Bin Jakfar Alyadrus

Pada tahun 1376 H. beliau pergi ke Mekkah dan menuntut ilmu dari para ulama disana, antara lain :

  1. Sayyid Alwi Bin Abbas Al-maliki(ayah Abuya Assayid Muhammad)
  2. Syaikh Hasan Massyath
  3. Syaikh Hasan Said Yamani
  4. Syaikh Zaini Boyan Al-Jawi
  5. Syaikh Abdullah Dardum Al-Jawi
  6. Syaikh Yasin Al-Fadani

Pada tahun 1381 H. beliau kembali dari tanah harom lalu mulai mengajar dan berdakwah di kota Aden sampai tahun 1396 H. Di Aden inilah beliau berjuang menghadapi “Al hizb Alisytiraki” partai komunis Yaman yang berkuasa dikala itu. Karena masih saja menyuarakan kebenaran, berkali-kali beliau mengalami percobaan pembunuhan,

beliau bahkan pernah sengaja ditabrak mobil hingga tulang-tulang kakinya patah. Beliau juga pernah dipenjara selama 9 bulan lebih, di waktu itu beliau berpindah-pindah dari penjara Seiwun, Mukalla dan terakhir di Aden. Semua itu beliau tulis dalam bukunya “kisah rencana pembunuhan dan penangkapanku”.

Pada tahun 1990. Habib Salim kembali ke kampung halamannya lantas mengasuh Ribath Tarim yang sempat ditutup pada masa kekuasaan komunis di Yaman.

Ketika beliau memimpin Ribath Tarim, mulailah para pelajar datang untuk menjadi muridnya dari segala penjuru dunia. Mereka yang tercatat pernah menimba ilmu dari habib Salim antara lain :

  1. Abuya Assayid Muhammad Al-Maliki
  2. Habib Umar Bin Hafidz
  3. Habib Husain Alhaddar
  4. Sayyid Abu Bakr Bilfagih
  5. Syaikh Muhammad AlKhotib

Serta masih banyak lagi murid-murid beliau yang menjadi pembesar-pembesar ulama di negri nya masing-masing.

* Gelar “Sulthonul Ulama” dan “Syaikhul Islam”.

Banyak yang menceritakan bahwa ayah Habib Salim, Habib Abdullah Bin Umar Assyatiri pernah berkata(ketika itu Habib Salim masih Anak-anak) :

“ابني سالم سيطول الله عمره و يكون سلطانا في العلم “

“Anakku Salim, Allah akan memanjangkan umurnya dan ia akan menjadi Sultan dalam urusan ilmu”

Sang ayah juga pernah berkata :

اولادي كلهم اولياء مباركون و ان ابني سالم سيفوق عليهم في الظاهر
 و الباطن و يطول الله عمره و يكون سلطانا و يابخت من حضر وقت

“Semua anakku adalah wali-wali yang diberkahi, tapi anakku Salim akan mengungguli yang lain baik dalam hal dhohir ataupun batin, Allah akan panjangkan umurnya dan ia akan menjadi seorang “Sultan”(ilmu), beruntunglah orang yang sezaman dengannya”

Sepulangnya dari Mekkah, Sang ibu sempat menegurnya karena ia hanya sibuk dengan ilmu tapi tak memiliki pekerjaan. Suatu malam ibunya bermimpi bertemu Sayyidina Ali Bin Abi Tholib yang berkata padanya :

“Kenapa engkau tak setuju ia sibuk dengan ilmu? Bukankah ayahnya telah mengatakan ia akan menjadi Sultan-nya ilmu?”

Ketika mondok di Sayyid Alwi Almaliki. kala itu Habib Salim membaca Syarah Aljauharull Maknun dihadapan gurunya. Sayyid Alwi lantas berkata kepada Habib Salim

“ستكون شيخ الاسلام في بلادك “

“Engkau akan menjadi “Syaikhul Islam” di negaramu”

Inilah sedikit singkat manaqib atau biografi dari Beliau Al Allamah Al Habib Salim Assyatiry, mudah-mudahan menambah keberkahan bagi kita dan menambah semangat kita mengikuti jejak beliau dalam mencari ilmu.

ﻓﺎﻟﻤﻮﺕ ﻟﻠﺆﻣﻦ ﺍﻷﻭﺍﺏ ﺗﺤﻔﺘﻪ *

ﻭﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺒﻐﻲ ﻭ ﻳﺮﺗﺎﺩ

ﻟﻘﺎ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺠﺪﻩ ﻭ ﺳﻤﺎ *

ﻣﻊ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺃﻧﻜﺎﺩ

Kematian bagi para Awliya’ adalah sebuah anugrah. Sebuah perayaan.. Bersama para Anbiya’ dan malaikat, mereka merayakan pertemuan mereka dengan Allah yang sudah sekian lama mereka rindukan ( Al Habib Abdulloh Bin Alwi AlHaddad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *