Mungkin kita pernah memperhatikan seorang arsitek perancang bangunan ketika ia selesai mengerjakan sesuatu yang katakan dianggap sebagai sebuah karya besar nya misal sebuah rancangan gedung bertingkat yang unik karena gaya arsitekturnya yang khas, nah untuk menilai hasil karyanya itu secara utuh dan menyeluruh maka ia akan melihatnya dari berbagi sisi dan sudut pandang: ia akan melihatnya dari muka sehingga terlihat tampak muka, ia akan melihatnya dari sisi kiri sehingga terlihat tampak sisi kiri, ia akan melihatnya dari sisi kanan sehingga terlihat tampak sisi kanan, mengapa ia berusaha untuk melihatnya dari berbagai sisi dan sudut pandang? tentu ia ingin melihat gambaran yang utuh menyeluruh dan menyatu agar bisa  menilai keindahan karyanya itu.
Atau contoh lain: seorang seniman pemahat yang teliti yang mengerjakan sebuah karya selama berbulan bulan maka ketika karya nya itu selesai ia tak akan merasa cukup bila melihatnya hanya dari satu sisi misal dari depan saja tapi ia akan berusaha melihatnya dari berbagai sisi dan sudut pandang tiada lain agar ia bisa menilai hasil karyanya itu secara utuh dan menyeluruh.
Atau bila anda ingin membeli sesuatu misal: barang elektronik, maka untuk menilainya anda akan cenderung melihatnya dari berbagai sisi dan dari berbagai faktor, dimana cara melihat dari berbagai sisi dan faktor itu menjadi pertimbangan kelak untuk kemudian membelinya atau tidak.

Itulah filosofi melihat segala suatu secara utuh dan menyeluruh memang biasanya selalu disertai tindakan melihat segala suatu dari berbagai sisi dan sudut pandang. Prinsip demikian adalah suatu yang sebenarnya bersifat alamiah artinya tidak diajari sekalipun secara alami filosofi cara pandang demikian melekat dalam fikiran manusia, baik pada orang awam atau ber ilmu.
Itulah berbagai gambaran analogi sehingga kemudian kita boleh atau patut untuk bertanya: mengapa filosofi cara pandang demikian sering tidak dipakai ketika manusia berhadapan dengan problematika yang teramat sangat penting bahkan seperti problem keilmuan dan kebenaran?
Sebab karakter alami manusiawi itu sering sekali mudah hilang oleh karena berbagai faktor tertentu sehingga ketika manusia berhadapan dengan berbagai masalah yang sangat bersifat mendasar seperti masalah kebenaran cara pandang seperti itu seringkali hilang atau seperti tidak dipakai.
Coba anda selidiki tidak sedikit pernyataan filosof saintis yang nampak ganjil bila kita melihatnya dari sisi yang lain tapi sebagian orang tetap saja menganggap pernyataannya sebagai benar atau rasional karena yang menilai pun sama tidak melihatnya dari berbagi sisi dan sudut pandang.
Sebagai contoh nyata adalah pernyataan yang datang dari Descartes: aku berfikir karena itu aku ada bila dilihat dari satu sisi memang akan seperti nampak benar tapi bila kita melihatnya dari sisi lain maka kita akan menemukan bahwa pernyataan itu sebenarnya sama sekali salah, bahkan andai seluruh dunia mengatakan benar saya tetap pada pandangan bahwa pernyataan itu bisa salah kalau kita melihatnya dari sisi yang lain, karena saya menemukan fakta rasional bahwa keberadaan manusia itu sebenarnya sama sekali tidak ditentukan oleh faktor manusia.
Contoh lain: bila ada saintis yang mengatakan: teori relativitas mengguncangkan teori Newton dan fisika quantum meruntuhkannya bila dilihat dari satu sisi seperti nampak benar tapi bila kita melihatnya dari sisi lain maka kita akan menemukan bahwa ungkapan itu sangat salah kaprah sebab saya menemukan fakta rasional bahwa alam semesta yang Allah SWT hakikatkan untuk difahami sebagai suatu yang tertata secara beraturan itu sama sekali tak bisa diruntuhkan oleh teori sains yang melihatnya dari sudut pandang manapun.
Itulah dengan prinsip melihat segala suatu dari berbagai sisi dan sudut pandang kita akan bisa menemukan hal hal yang sebenarnya salah dan keliru bahkan yang berasal dari pemikir kelas dunia yang oleh sebagian manusia telah terlanjur dianggap sebagai sebuah kebenaran yang bersifat mutlak.

Nah kesalahan yang paling fundamental biasanya adalah cara pandang manusia (pemikir disini) terhadap agama, sebab saya menemukan banyak sekali stigma negatif terhadap agama yang sebenarnya berasal dari menilai berdasar cara pandang yang melihat agama hanya dari satu atau dua sisi tidak dari berbagai sisi dan sudut pandang, sehingga dari cara pandang demikian lahirlah stigma terhadap agama seperti: hanya ajaran moral, suatu yang irrasional, suatu yang tidak berdasar ilmu dll. Sebab bila saya melihatnya dari berbagai sisi dan sudut pandang ternyata saya bisa menemukan dan bisa menyusun seabreg (banyak sekali) argumentasi untuk membuktikan bahwa agama sebenarnya bukan hanya ajaran moral, bukan sesuatu yang irrasional dan bukan sesuatu yang tidak berasas ilmu.

Dan yang lebih spesifik lagi yang berkaitan dengan masalah agama adalah masalah surga dan neraka, bila manusia melihatnya hanya dari satu sisi yaitu sisi dimana manusia sudah terbiasa melihat dan memahami realitas sebagai suatu yang panca indera terbiasa menangkapnya maka deskripsi tentang surga neraka itu bisa langsung di vonis sebagai: bukan realitas, hanya ajaran moral, mitos, dll. Tapi coba kita belajar bijak belajar melihat segala suatu tidak hanya dari satu sisi karena disamping panca indera manusia pun diberi oleh Allah SWT akal fikiran, maka cobalah tela’ah masalah surga neraka itu dari sisi yang akal fikiran bisa memahami keharusan keberadaannya, coba kaji oleh akal andai di dunia ini ada kebaikan dan kejahatan dan otomatis ada yang berbuat baik dan berbuat jahat tapi Allah SWT tidak menciptakan konsep balasannya maka makna benar-salah, kebaikan, kejahatan serta makna keadilan Tuhan akan hilang sama sekali, sehingga tanpa adanya konsep surga dan neraka itu maka kehidupan otomatis akan menjadi suatu yang janggal ganjil bagi akal (irrasional tak bisa masuk di akal), sebab kehidupan menjadi acak-acakan tanpa penataan yang beraturan, sedang akal selalu menuntut ketertataan segala suatu yang bisa difahami secara tertata secara konstruktif.
Manusia terkadang terbiasa melihat sesuatu dari satu sisi karena berbagai faktor, katakan faktor emosional, misal: bila seseorang yang kita benci mengatakan sesuatu perihal kebenaran mungkin sulit untuk masuk ke hati kita karena adanya faktor rasa benci yang membuat kita terhalang untuk melihat sisi lain dari orang itu yaitu sisi atau sesuatu yang positif nya.

Itulah prinsip, bila kita ingin memahami sesuatu secara utuh dan menyeluruh maka kita harus melihat sesuatu itu dari berbagai sisi dan sudut pandang, menjadi suatu prinsip yang sangat vital bagi umat manusia pencari kebenaran sejati karena prinsip demikian terlalu sering dan mudah luntur karena berbagai faktor: faktor emosional, faktor gengsi, faktor merasa diri kedudukannya lebih tinggi, faktor nepotisme, dan ada 1001 macam faktor yang membuat manusia lupa kepada filosofi prinsip cara melihat secara menyeluruh itu sehingga ujungnya banyak melahirkan pernyataan pernyataan yang ganjil atau menimbulkan kontradiksi atau melahirkan pandangan pandangan yang picik.
Sebab itu filosofi: lihatlah segala suatu dari berbagai sisi dan sudut pandang agar sesuatu itu bisa difahami secara utuh dan menyeluruh’ atau dibalik juga boleh:  ‘bila ingin melihat segala suatu secara utuh dan menyeluruh maka lihatlah sesuatu itu dari berbagai sisi dan sudut pandang’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.