Kisah perang jamal. Dimana kisah singkat nya adalah kedua pihak yaitu pasukan Sayidina Ali dan Sayidatina Aisyah sudah berdamai. Tiba tiba di malam hari terdapat pasukan musuh yang membagi diri nya menjadi dua kelompok, yang satu kelompok menyamar menjadi pasukan nya sayidina ali yang kemudian menyerang kubu sayidah Aisyah. Begitu juga pasukan yang lain, menyamar menjadi pasukan sayidah Aisyah dan mneyerang kubu Sayidina Ali, akhir nya terjadi lah peperangan yang menewaskan banyak kaum muslimin. Dimana pihak sayidah aisyah mengklaim bahwa pasukan sayidina ali yang menyerang, namun pihak sayidina Ali mengklaim pihak Sayidah Aisyah yang menyerang, inilah dahsyat nya adu domba.

Dan pada saat ini juga terjadi adu domba antar ulama kita. Ada pihak ketiga yaitu musuh islam. Yang mereka mengadu domba para ulama kita, ulama yang satu dibenturkan dengan ulama yang lain, dengan cara memotong video ceramah antara ulama yang satu dan yang satu, dan berbagai macam cara, yang terpenting adalah bagaimana umat islam dapat terpecah belah, sehingga mereka para musuh dengan mudah akan menyerang umat islam.

Dan ternyata cara ini berhasil saudaraku…. Bagaimana pengikut ulama A mencaci ulama B, begitu juga sebalik nya, pengikut ulama B mencaci ulama A. sungguh sangat miris keadaan ini saudara ku…seorang ulama di caci, dihina dan di rendahkan oleh jamaah. Yang lebih miris lagi ada dari mereka yang mencaci adalah orang yang faham akan ilmu agama. Begitulah dahsyat nya adu domba, sehingga manusia bisa buta mata hati nya. Keberagaman dalam berdakwah merupakan sesuatu hal yang wajar, ulama adalah pewaris para nabi. Diantara mereka para ulama ada yang mengambil sifat tegas nya Nabi, ada yang mengambil sifat lembut nya Nabi, dan hal ini saling melengkapi.

Maka kita sebagai umat, sebagai jamaah, hendak nya bisa memaklumi dan mengambil sikap yang bijak. Jangan mudah mencaci seseorang, apalagi yang di caci adalah ulama.

Kenali lah musuh kita ketika kita berperang, apabila kita tidak kenali musuh kita, maka kita bisa memenggal kepala kawan kita sendiri (Buya yahya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *