MUHASSABAH DIRI MENGHADAPI TAKDIR  KEMATIAN

Imam Ghazali menuturkan bahwa tanda kecerdasan seseorang bukan karena ia memiliki IQ yang tinggi sehingga menguasai banyak bidang ilmu, tetapi orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati.

Muhasabah diri

Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab secara etimologis berarti melakukan perhitungan. Muhasabah merupakan salah satu sarana yang dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT.

Di dalam terminilogi syari, makna dari muhasabah ialah sebuah upaya untuk melakukan evaluasi diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya. Evaluasi tersebut meliputi hubungan seorang hamba (manusia) dengan Allah, maupun hubungan sesama makluk ciptaan Allah seperti dalam kehidupan sosial yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia, lalu secara umum dengan tumbuhan, hewan bahkan makhluk seperti air, udara dan benda-benda-benda mati. Baik hal tersebut adalah bersifat vertikal, hubungan manusia hamba dengan Allah. Maupun secara hubungan horisontal, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia yang lainnya dalam kehidupan sosial. Senantiasa bermuhasabah adalah jalan satu sarana untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang mulia sebagai hamba Allah SWT.

Pentingnya muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).

Salah satu kunci meraih kesuksesan hidup dunia akherat adalah dengan melakukan muhasabah diri. Intropeksi dan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Berikut hal terkait dengan kehidupan kesuksesan hidup orang Islam.
Rasulullah dalam sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing perencanaan untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi di alam akherat kelak. 

Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang “rela” mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, “kebahagiaan kehidupan ukhrawi.”

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. 

Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. 

Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. 
Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.

Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan “orang yang lemah”, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. 

Allah berhak mengambil ruh manusia kapan dan dimanapun. Manusia tak bisa mengelak dan juga tidak pernah tahu dengan waktu kapan akan tiba. Tidak ada satupun orang yang bisa lolos dari Kematian. Walaupun sembunyi di gua, di hutan, di dalam palung lautan, kalau jatah umur sudah habis, maka malaikat Izrail akan datang mencabut nyawa seseorang.

Dengan dirahasiakan kapan kematian seseorang akan datang, maka disitulah letak bagaimana Allah ingin menjadikan kematian sebagai pelajaran bagi orang yang berpikir. Bahkan Imam Ghazali menuturkan bahwa tanda kecerdasan seseorang bukan karena ia memiliki IQ yang tinggi sehingga menguasai banyak bidang ilmu, tetapi orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati.

Bahkan Imam Ghazali menuturkan bahwa tanda kecerdasan seseorang bukan karena ia memiliki IQ yang tinggi sehingga menguasai banyak bidang ilmu, tetapi orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati.

Dengan mengingat kematian, maka kita akan selalu menyiapkan bekal hidup yang lebih abadi setelah kematian datang. Karena dunia sifatnya hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih kekal disana. Kematian hanyalah pintu untuk masuk ke alam lain, yaitu alam barzakh seraya menunggu hari kebangkitan datang. 

Lalu bekal apa yang bisa kita bawa? Harta yang melimpah? Kendaraan yang mewah? Rumah yang megah? Keluarga yang kita sayangi? Semua itu tidak akan bisa dibawa ke alam kubur sana. Dan semua akan meninggalkan jasad kita sendiri di liang  lahat. Hanya satu yang dapat dibawa, yaitu amal kebaikan yang pernah diperbuat selama hidup di muka bumi. Sudah cukupkah bekal kita? Bagaimana dengan ibadah kita? Bagaimana kedekatan kita dengan Tuhan? Bagaimana muamalah kita dengan keluarga dan tetangga? Bagaimana tanggung jawab kita sebagai khilafah di muka bumi untuk save the earth & conserve the land? Semua perlu direnungkan bersama selagi nyawa masih di rongga dada. 

Kematian adalah tool yang setidaknya dapat dijadikan sarana bermuhasabah agar kita selalu dekat dengan Tuhan. Iman kadang naik dan kadang  pula turun. Dengan dekat tuhan,  maka keimanan kita tetap terjaga. Dengan kadar iman yang memadai, maka akan mendorong tergeraknya amal dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Amal itu akan berhenti manakala seseorang sudah wafat. Kecuali tiga amal, yaitu anak yang sholih yang mendoakan orang tua, ilmu yang bermanfaat, dan shodaqoh jariyah. Sehingga ketika kita masih diberi nikmat panjang umur, sebisa mungkin ditingkatkan keimanan dan ketakwaan pada Tuhan. 

Diantara  kita, tentu tidak ada yang mau menjadi orang-orang merugi bukan? Karena di dalam Alquran disebutkan bahwa orang-orang yang telah meninggal, meminta kepada Allah untuk kembali dihidupkan hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah.

Dengan demikian kematian adalah cara Allah untuk selalu mawas diri. Kematian adalah cara sederhana agar kita tak selalu membanggakan kehidupan di dunia. Justru dengan kematian kita dapat bermuhasabah diri bahwa kita tak selamanya hidup di bumi. Dunia tak lebih dari ladang yang seharusnya ditanami dengan benih amal baik guna membekali diri menghadapi kiamat kecil bernama kematian. Sudah siapkah kita menjumpainya?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *