JANGAN TAKABUR

Membiasakan diri dengan sesuatu yang dipandang rendah ini akan melunturkan sifat sombong dan bangga diri dalam hatinya.

 

 

Kesombongan

Takabur secara bahasa artinya sombong atau membanggakan diri. Sedangkan menurut istilah takabur adalah sikap merasa dirinya lebih daripada orang lain dan memandang rendah orang lain serta tidak mau taat kepada Allah SWT. Sifat takabur hampir sama dengan sifat ujub. Dimana sifat ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah atas usahanya sendiri, sedangkan sifat takabur menganggap dirinya lebih mampu dan meremehkan orang lain.

Rasullulah SAW bersabda : Kesombongan adalah menolak dan meremehkan manusia.(HR MUSLIM)

Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat takabur (sombong) karena kesombongan akan membuka jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dalam lingkungan masyarakat. Di samping itu, kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian dan titipan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri, bahkan sebaliknya kita harus mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT sebagai nikmat anugerah dan karunia.

Contoh sikap takabur yang paling terkenal dan sikap takabur yang pertama kali dilakukan adalah kesombongan iblis yang menolak bersujud kepada Adam. Allah SWT menciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama. Penciptaan Nabi Adam membuat iblis tidak senang. Ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat dan iblis untuk bersujud serta memberikan penghormatan kepada Nabi Adam, iblis menolaknya. Sebab iblis beranggapan bahwa dirinya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada Nabi Adam. Karena hal itu, Allah pun menegur iblis. Iblis berkilah bahwa dirinya jauh lebih hebat di banding dengan manusia. Dengan sombongnya iblis berkata kepada Allah SWT jika dia diciptakan dari api. Sedangkan manusia diciptakan dari segumpal tanah. 
Pernyataan itu membuat Allah murka, kemudian iblis diusir dari surga. Kebencian iblis terhadap Nabi Adam dan umat manusia semakin menjadi. Karena Nabi Adam, iblis terusir dari surga.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah) keika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka bersujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 34).

Sifat takabur ini dikategorikan menjadi 3 macam yaitu, yang pertama adalah

1.SifatTakabur kepada Alloh

sebagaimana apa yang telah dicontohkan di dalam Al Qur’an pada zaman nabi nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW tentang Raja Raja yang Dzalim dan sombong diantaranya Raja Namrud, Raja Fir-aun dan Abu Lahab.

2.Sifat Takabur kepada Rasulullah

Takabur kepada rasul Allah Swt. dapat diartikan dengan merasa dirinya mulia sehingga merasa tidak perlu mengikuti para rasul. Mereka menganggap rasul adalah manusia biasa sehingga tidak perlu dianut dan dipatuhi. Kesombongan seperti ini menyebabkan mereka tidak mau mengikuti ajaran rasul. Contoh takabur kepada rasul adalah tidak menaati perintah Rasulululla saw dan  meninggalkan sunnahnya

3.Sifat Takabur kepada Sesama manusia.

Takabur kepada manusia dapat berupa sikap memuliakan dirinya sendiri dan menganggap orang lain hina. Takabur kepada manusia juga dapat berupa keinginan untuk selalu berada di atas orang lain. Keinginan ini menyebabkannya menganggap rendah orang lain. Contoh takabur kepada manusia adalah berkata yang menunjukkan sifat takabur.

Takabur adalah sifat buruk. Untuk menghindarinya kita tidak bisa lakukan begitu saja. Tetapi engkau harus mengetahui penyebab yang mendorong timbulnya takabur. Sebab takabur itu adalah suatu akibat dari sebab. Jika tak mengetahui sebab, maka sulitlah engkau mengatasi akibatnya.

Adapun secara umum, menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, sebab sebab takabbur itu antara lain:

  1. Karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya
  2. Karena ibadah dan amal shalih yang dikerjakannya
  3. Karena keturunan atau nasabnya
  4. Karena harta kekayaan yang dimilikinya
  5. Karena keelokan wajah yang dimilikinya
  6. Karena kekuasaannya
  7. Karena kaum atau golongannya lebih banyak

Seorang muslim hendaknya menyadari hakikat diri dan hakikat Allah (ma’rifatullah). Hakikat manusia adalah makhluk hina. Ia dilahirkan dari sesuatu yang hina (QS. Al-Insan: 1-2). Saat lahir, ia sama sekali tidak memiliki apa-apa dan lemah. Semua kepandaian, kecerdasan dan keluasan ilmu semuanya dari Allah.

Sedangkan Allah SWT adalah dzat yang serba sempurna. Dialah yang berhak sombong.

Artinya: Allah yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman: ”Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya, Aku pasti menyiksanya. (H.R. Muslim)

Adapun penyembuhan dengan amal dapat dilakukan dengan melatih diri menjadi orang tawadhu’, setinggi apapun ilmunya.

Rasulullah SAW telah memberi teladan yang luar biasa dalam hal ini. Beliau adalah manusia yang paling mulia. Tapi, Rasulullah SAW adalah tipe pemimpin yang merakyat. Ia tak segan bergumul dengan orang-orang miskin.

Dalam satu riwayat beliau sampai-sampai pernah makan di atas tanah tanpa alas bersama sahabat. Seorang ulama’ salaf pernah melatih diri dengan makan dan ngobrol bersama para penjual di emperan pasar. Padahal ia sangat terpandang di mata umat. Hal ini dilakukannya semata-mata demi menyingkirkan sifat kibr yang hinggap di hatinya. Melatih hidup sederhana inilah yang kadang sulit dilakukan pemimpin.

Membiasakan diri dengan sesuatu yang dipandang rendah ini akan melunturkan sifat sombong dan bangga diri dalam hatinya.

Semuanya tergantung pada kesedian diri, adakah kerelaan dari para pemimpin, dan juru dakwah untuk bersahaja, terbuka menerima kebenaran, merakyat, dan dekat dengan umat. Sebaliknya orang yang menutup diri, tidak jujur dan egois biasanya mudah diombang-ambingkan oleh kesesatan, dan mudah tergoda oleh harta, jabatan dan prestasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.