KEBAHAGIAAN DI DALAM RUMAH

Rumah tangga dalam Islam adalah `tempat berteduh’, tempat terwujudnya suasana sakinah (tenteram) yang disempurnakan dalam mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih-sayang). Sebagaimana yang disabdakan Rasululah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)`baitii jannatii’, rumahku adalah surgaku.

Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam mengartikan sebuah kebahagiaan. Ada yang menganggap bahwa kebahagian yang sempurna ialah segala kebutuhan telah tercapai yakni harta, tahta dan wanita. Ada yang berpresepsi bahwa kebahagiaan itu adalah dapat membuat orang lain bahagia atau dapat berkumpul bersama sudah lebih dari cukup untuk dikatakan bahagia.

Namun, kebahagian yang sesungguhnya bukan berarti memiliki harta yang banyak dan melimpah, ataupun dengan harta, tahta dan wanita. Bahagia adalah dimana tempat tinggal itu dijadikan surga bagi para penghuninya.

Allah swt berfirman dalam surat At Taubah : 27

“Allah menjanjikan kepada orang- orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai- sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat- tempat yang bagus di surga ‘Adn dan keridaan Allah adalh lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.

Kebahagian yang hakiki ialah suatu pencapaian dimana di akhirat nanti kita dapat meraih surgaNya Allah SWT. Secara tidak langsung Allah meminta kepada hamba- hambanya untuk mampu menjadikan seluruh lingkungan kita termasuk rumah kita, menjadi taman-taman surga duniawi. Rumah yang mampu menghantarkan semua keluarga kita menuju taman-taman surga yang telah diberkahi oleh Allah SWT.

Lalu bagaimana mewujudkan konsep rumahku surgaku? Rasulullah ﷺ. pernah bersabda,

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” (HR. Muslim).

Rumah merupakan awal dari segala aktivitas, basecamp untuk sebuah keluarga. Membangun konsep baiti jannati bukan hanya tugas salah satu dari pihak penghuni rumah tersebut. Ayah, Bunda, Kakak dan Adik saling melengkapi untuk membangun konsep baiti jannati.

Rumah pula adalah tempat pembinaan paling baik, karena semua berawal dari rumah. Bagi anak- anak rumah adalah segalanya.

Rumah sebagai tempat yang nyaman, kenapa? Karena apapun yang akan kita lakukan rumah adalah tempat ternyaman untuk mengekspresikan ke gundahan dalam hati. Selain tempat yang nyaman rumah adalah tempat untuk belajar atau sebagai sumber ilmu. Baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu-ilmu agama yang dapat mengundang keberkahan Allah.Bahkan ilmu yang tak dapat kita temukan dalam sebuah bangunan sekolah sekali pun. Seperti ilmu saling menyayangi antar anggota keluarga.
Rumah bisa dijadikan sebagi tempat edukasi ibadah paling baik. Karena anggota keluarga akan saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ. “Terangilah rumahmu dengan sholat malam dan tilawah Al-Quran.”

Selain itu dapat belajar sikap kepemimpinana dari seorang ayah secara langsung. Belajar memberikan sesuatu tanpa pamrih layaknya ibu. Semua hal- hal baik dapat kita pelajari di rumah yang memiliki konsep baiti jannati. Karena konsep baiti jannati membuat penghuni rumah merasa bahwa keluarga adalah suatu hal yang utama dibandingkan dengan apapun.

Rumahku adalah surgaku, merupakan ungkapan yang indah bangunan rumah tangga seorang muslim. Sungguh gambaran yang luar biasa, yang memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan yang selalu dirindukan semua orang untuk diwujudkan. Sebuah surga didunia yang hadir dalam sebuah rumah.

Namun haruslah dipahami, bahwa baiti jannati tidak akan terwujud begitu saja, tanpa adanya usaha.  Usaha untuk mewujudkannya pun bisa jadi merupakan usaha yang luar biasa dan membutuhkan banyak energi dan menguras pikiran.

Usaha ini haruslah berasal dari kedua belah pihak, yaitu suami dan istri.  Mustahil akan terwujud baiti jannati jika hanya satu pihak yang berusaha.  Kedua belah pihak, baik suami maupun isteri harus berusaha, bahkan berjuang  sungguh-sungguh yang bisa jadi membutuhkan banyak pengorbanan.

Hak dan kewajiban suami-istri

Agar sukses dalam membangun konsep keluarga baitul jannati, suami istri mempunyai hak dan kawajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang. Setiap suami mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh istri, sebab itu kewajiban istri. Dan setiap istri mempunyai hak, dan hak ini harus dipenuhi oleh suami dan itu kewajiban suami.

Menjadi suami yang baik memiliki posisi tersendiri (khusus) di hadapan Allah. Sehingga perbuatan yang kecil, remeh lagi sepele yang diberikan kepada istrinya dengan tulus ikhlas, akan diganjar oleh Allah. “Sesungguhnya seorang suami bila memberi minum air kepada istrinya diberi pahala.”

Kalau hanya seteguk air saja yang diberikan kepada istri dijamin oleh Allah dengan pahala, maka bisa dibayangkan bagaimana besarnya pahala atas pemberian-pemberian lainnya yang jauh lebih berharga daripada air.

Oleh karena itu jadilah suami teladan. Jangan sekali-kali menjadi suami yang mudah menyia-nyiakan istri. “Cukuplah berdosa bagi seorang yang menyia-nyiakan istrinya,” sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

 “Sebaik-baik kamu (suami ) adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah yang paling baik kepada istriku,” demikian sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Sebaliknya, juga istri harus berupaya menjadi istri teladan, yang mampu tampil sebagai pendidik, istri, sekaligus ibu.

Pernah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)bertanya kepada seorang wanita tentang sikapnya terhadap suaminya. Wanita tersebut menjawab, “Segala sesuatu yang sanggup aku kerjakan bagi suamiku, aku lakukan, kecuali apa-apa yang tidak sanggup aku lakukan.”

Mendengar jawaban tersebut Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Masukmu ke dalam surga atau neraka itu bergantung sikapmu terhadap suamimu.”

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. “Bilamana seorang wanita melakukan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta menjaga kehormatan dan mentaati suaminya, maka dia berhak masuk surga dari pintu manapun yang engkau kehendaki.” [HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Demikian pentingnya unsur ketaatan istri kepada suami sehingga Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka.”

Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa derajat wanita sangat ditentukan oleh perlakuannya terhadap suaminya. “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu.”

Sakinah, mawaddah, dan rahmah

Rumah tangga dalam Islam adalah `tempat berteduh’, tempat terwujudnya suasana sakinah (tenteram) yang disempurnakan dalam mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih-sayang). Sebagaimana yang disabdakan Rasululah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)`baitii jannatii’, rumahku adalah surgaku.

Suasana sakinah, mawaddah, dan rahmah inilah yang sangat dibutuhkan oleh setiap bayi yang lahir sebagai buah dari perkawinannya.

Anak yang dibesarkan dalam usrah yang tenteram, diliputi oleh rasa kasih sayang, pasti akan menjadi anak yang tumbuh normal, dewasa, dan matan kepribadiannya.

Sebaliknya bayi yang lahir dari kegelisahan, kebencian, dan kekejaman dalam rumah tangga kelak akan menjadi anak-anak yang membalas dendam kepada masyarakat di mana dia hidup. Akan fatal akibatnya apabila seorang ibu sibuk di luar rumah dan melupakan tugas memberikan sentuhan kasih sayang secara optimal kepada anaknya.

Anak yang merasakan sentuhan kasih sayang sejak dini akan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebaliknya, anak yang kehilangan kasih sayang sejak kecil akan menjadi anak yang rendah diri, minder, dan sulit menyayangi orang lain. Ia akan protes melihat kenyataan hidup yang dihadapi.

Oleh karena itu, menjadi tugas kita, utamanya para ibu untuk kembali ke rumah. Rawatlah anak-anakmu dengan penuh kasih sayang dan tanamkanlah nilai-nilai keislaman kepada putra-putri Anda. Bentengilah mereka dari hal-hal yang dapat merusak masa depan mereka.

Begitupun kepada kaum bapak. Janganlah kesibukan Anda mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Sebab Allah mentakdirkan kaum lelaki sebagai pemimpin keluarga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” [QS. An Nisa’:34].

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahrim: 6]

Semoga Alla Subhanahu Wata’ala menjadikan rumah dan keluarga kita menjadi kita “baiti jannati”, rumah-rumah ibarat surga, yang dikelilingi kasih dan sayang, suami-istri dan anak-anak yang sholeh dan sholehah dan senantiasa mengagungkan “asma” Allah. Tak kalah penting, mudah-mudahan semua keturunan kita terhindar dari api neraka dan agar keharmonisan tetap terjaga selamanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *