Andai tidak disunahkan untuk merayakan kemenangan yang membahagiakan di bulan syawal tepat nya saat idul fitri tanggal 1 syawal, maka tidak berlebihan jika dikatakan tanggal 1 syawal merupakan hari duka cita bagi umat islam.
Karena musibah yang telah menimpa yaitu kepergian bulan romadhon. Bulan yang penuh rohmat, ampunan Alloh serta pembebasan dari api neraka telah pergi dan bahkan mungkin untuk selama nya kita tidak bisa untuk berjumpa lagi dengan nya. Siapa yang dapat menjamin kita akan dapat berjumpa kembali dengan bulan romadhon.

Namun kita selalu berharap dan berdoa semoga Alloh akan pertemukan kita kembali dengan bulan romadhon di tahun-tahun yang akan datang bersama kedua orang tua kita, guru guru kita dan orang yang kita cintai dalam keadaan yang lebih baik.

Satu syawal merupakan hari yang tepat untuk kita merenung, berifikir dan intropeksi. Berapa umur kita saat ini, apa amal yang sudah kita lakukan, dosa apa yang telah kita terjang, bekal apa yang telah kita siapkan untuk menuju alam akhirat

Untuk masalah ekonomi, tanpa di perintah pun kita sudah menghisab. Apabila pendapatan ekonomi tahun ini lebih baik dari tahun lalu, maka kita akan senang, namun tetapi apabila penghasilan tahun ini lebih sedikit dibandigkan tahun lalu, maka kita akan berfikir, mengevaluasi dan mencari apa penyebab nya,

Hal ini juga lah yang harus nya kita lakukan untuk hal akhirat kita, apa yang telah kita dapat setelah madrosah bulan romadhon kemarin, apa kah yang kita dapat lebih banyak perubahan kebaikan dari dalam diri kita dibanding dengan tahun lalu? atau justru malah keluar dari romadhon tahun ini kita justru lebih buruk dari romadhon tahun lalu,

Maka hal yang paling tepat adalah, kita kembali kepada alloh, memohon ampun kepada Alloh dan memohon taufik serta pertolongan Alloh, agar kita dikuatkan setelah romadhon untuk tetap melakukan amal soleh, serta menjaga kataqwaan kepada Alloh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *